Rabu, 25 Februari 2026

UPAYA KEPALA SMK NEGERI 1 PETARUKAN DALAM MENGOPTIMALKAN LAYANAN PENGELOLAAN MATA PELAJARAN PRAKTIK KERJA LAPANGAN (PKL) PADA KURIKULUM MERDEKA DENGAN MENCIPTAKAN APLIKASI e-PKL NESTAR YANG TERINTEGRASI

 

I. PENDAHULUAN

A.     Latar Belakang

Permendikbud Nomor 50 Tahun 2020 tentang Praktik Kerja Lapangan Bagi Peserta Didik, Praktik Kerja Lapangan yang selanjutnya disingkat PKL menjelaskan bahwa PKL adalah pembelajaran bagi Peserta Didik pada SMK/MAK, SMALB, dan LKP yang dilaksanakan melalui praktik kerja di dunia kerja dalam jangka waktu tertentu sesuai dengan kurikulum dan kebutuhan dunia kerja. Selanjutnya, Permendikbudristek Nomor 12 Tahun 2024 tentang Kurikulum pada Pendidikan Anak Usia Dini, Jenjang Pendidikan Dasar, dan Jenjang Pendidikan Menengah, ditetapkan bahwa PKL merupakan salah satu mata pelajaran (mapel) sebagai wahana pembelajaran di dunia kerja. Pada Kurikulum Merdeka, PKL menjadi mata pelajaran yang harus diikuti oleh seluruh peserta didik SMK/MAK dengan ketentuan sekurang-kurangnya selama 1 semester atau 16 minggu efektif setara dengan 736 jam pelajaran di kelas XII pada SMK/MAK program 3 tahun dan sekurang-kurangnya 10 bulan setara dengan 1.216 jam pelajaran di kelas XIII pada SMK/MAK program 4 tahun.

Perubahan implementasi Mata Pelajaran PKL yang tertuang melalui Permendikbudristek nomor 12 tahun 2024, dimana PKL tidak lagi menjadi kegiatan kokurikuler, tetapi berubah menjadi kegiatan intrakurikuler, sebagai bagian dari mata pelajaran yang wajib diikuti oleh peserta didik SMK pada kelas XII, berimplikasi pada pengelolaan mata pelajaran tersebut layaknya mata pelajaran lain. Pada kurikulum sebelumnya, dimana PKL bukan bagian dari mata pelajaran, maka pengelolaan PKL lebih sederhana, karena tidak berimplikasi pada jam pembelajaran guru mapel. Dengan adanya perubahan implementasi PKL sebagai mata pelajaran, konsekuensinya mapel PKL secara otomatis telah mendistorsi jam KBM guru mata pelajaran, sehingga jika tidak dikelola dengan baik, maka berakibat guru mata pelajaran kelas XII yang diberi tugas sebagai pembimbing PKL akan kesulitan membuat lapran pelaksanaan KBM sebagai syarat bukti dukung pelaksanaan kinerja guru yang dilaporkan melalui Platform Merdeka Mengajar (PMM).

Mata Pelajaran PKL di SMK Negeri 1 Petarukan pada Tahun Pelajaran 2024/2025, diimplementasikan untuk kelas XII semester 5. Peserta didik sebanyak 628 diterjunkan ke berbagai industri mitra untuk melaksanakan PKL pada tanggal 15 Juli 2024 untuk kurun waktu selama 16 pekan efektif dan sesuai kalender akademik akan dilakukan penarikan pada tanggal 11 November 2024. Tahun Pelajaran ini, sebagian besar peserta didik melaksanakan kegiatan PKL pada dunia usaha dunia industri yang tersebar di luar kota, seperti : Jakarta, Bekasi, Tangerang, Magelang, Kudus, Demak, Semarang, Surakarta, dan beberapa kota lain di Jawa Tengah. Dengan durasi yang tergolong lama, kurang lebih 1 semester, maka guru pengampu mata Pelajaran kelas XII tidak melaksanakan kegiatan pembelajaran klasikal, sebagai gantinya mereka menjadi pembimbing peserta didik melaksanakan PKL, mulai dari penerjunan, monitoring dan penjemputan, ketika periode PKL berakhir. Penyebaran lokasi PKL peserta didik yang tergolong jauh, maka memerlukan perangkat monitoring dari guru pembimbing yang dapat menjangkau, mudah digunakan, efektif, serta rendah biaya. Karena PKL menjadi mata pelajaran dan menggantikan jam pembelajaran klasikal, maka kegiatan monitoring yang dilakukan guru pembimbing menjadi hal yang wajib dilakukan secara rutin sebagai pengganti jam mengajar. Jika lokasi PKL yang jauh, maka hal ini akan menguras energi dan sumber daya sekolah yang begitu besar.

 

Berdasarnya kenyataan tersebut, maka kepemimpinan kepala sekolah dalam pembelajaran sangat diperluakan untuk menciptkan inovasi bagi keterlaksanaan program PKL agar berjalan efektif. Kenyataan itulah yang mendorong kami selaku Kepala SMK Negeri 1 Petarukan untuk menciptakan aplikasi yang dapat digunakan dalam pengelolaan PKL sebagai mata Pelajaran. Sehingga dalam praktik baik yang kami sajikan berikut ini mengambil judul Upaya Kepala SMK Negeri 1 Petarukan dalam Mengoptimalkan Layanan Pengelolaan Mata Pelajaran Praktik Kerja Lapangan (PKL) pada Kurikulum Merdeka dengan Menciptakan Aplikasi e-PKL Nestar yang Terintegrasi tahun 2024.

 

B.      Tujuan

Tujuan dari penulisan praktik baik Kepala SMK Negeri 1 Petarukan dalam mengoptimalkan layanan pengelolaan mapel PKL pada kurikulum Merdeka dengan menciptakan aplikasi Nestar yang terintegrasi adalah :

1.     Memberikan Gambaran bagaimana Upaya Kepala SMK Negeri 1 Petarukan dalam mengoptimalkan potensi yang ada di sekolah, sehingga layanan PKL berjalan secara efektif

2.     Memudahkan guru pengampu mata Pelajaran kelas XII yang ditunjuk sebagai pembimbing PKL dalam melaporkan kinerjanya sebagai guru melalui pembimbingan PKL dengan aplikasi Nestar yang terintegrasi.

3.     Memberi Gambaran bagaimana kepala SMK Negeri 1 Petarukan, secara kolaborasi menciptakan aplikasi Nestar sehingga dapat memudahkan guru dalam melakukan pembimbingan PKL melalui monitoring harian yang dapat divalidasi langsung.

4.     Memudahkan peserta didik dalam mengisi jurnal PKL secara online dan dapat langsung tervalidasi oleh guru pembimbing, tanpa ada tatap muka secara langsung.

 

 

 

II. PELAKSANAAN KEGIATAN

A.  Situasi

Praktik Kerja Lapangan (PKL), sebelum adanya implementasi kurikulum Merdeka, bukan bagian dari mata Pelajaran. Artinya kegiatan PKL hanya sebatas kegiatan kokurikuler yang tidak mengurangi jam pembelajaran. Pada situasi tersebut, ketika peserta didik melaksanakan PKL, maka seolah-olah dianggap “bonus” bagi guru, karena tidak melaksanakan kegiatan pembelajaran selama kurun waktu pelaksanaan PKL (kurang lebih 3 bulan). Dampak yang ditimbulkan adalah guru mengalami kesulitan dalam melaporkan kinerjanya karena tidak melaksanakan kegiatan tugas utama mengajar. Disamping itu pihak sekolah juga kesulitan memantau aktivitas peserta didik selama PKL, baik presensi peserta didik, maupun permasalahan lain, yang timbul dalam pelaksanaan PKL di dunia usaha dunia industri.

Permasalahan klasik yang muncul disetiap kegiatan PKL misalnya tingkat kehadiran peserta didik yang sulit terpantau, terkadang karena kesibukan pembimbing dari industri tempat PKL, maka tidak punya waktu untuk melakukan pemantauan terhadap peserta didik PKL. Aktivitas peserta didik selama PKL di industri juga sulit terpantau langsung oleh pihak sekolah, akibatnya permasalahan tersebut terakumulasi dan tiba-tiba dari pihak industri tempat PKL memberi tahu sekolah bahwa peserta didik tidak berangkat sekian hari, atau peserta didik tidak melakukan aktivitas pekerjaan yang diharapkan pihak industri tempat PKL, hanya sebatas rutinitas berangkat dan pulang saja.

Melihat kondisi pelaksanaan PKL yang jamak terjadi disetiap Sekolah Menengah Kejuruan (SMK), maka perlu adanya inovasi yang dapat “mendekatkan” lokasi industri dengan pihak sekolah. Apalagi setelah PKL menjadi mata Pelajaran, maka diperlukan terobosan sekolah dan itikad baik Kepala Sekolah selaku pemimpin pembelajaran untuk membuat inovasi agar pengelolaan PKL menjadi lebih efektif.

Inovasi yang dapat mendekatkan industri dan pihak sekolah, agar pelaksanaan PKL lebih efektif adalah dengan membuat aplikasi yang memungkinkan digunakan secara kolaborasi, antara pihak sekolah (guru pembimbing), pihak industri (tempat PKL) dan peserta didik PKL. Kami selaku Kepala SMK Negeri 1 Petarukan, telah mengajak berdiskusi tim kelompok kerja PKL, untuk bersama-sama menciptakan aplikasi yang memungkinkan dapat “mendekatkan” lokasi industri tempat PKL dan pihak sekolah. Aplikasi yang dibuat termasuk didalamnya digunakan presensi peserta didik berbasis koordinat, yang tervalidasi oleh pembimbing industri dan pembimbing sekolah (Guru). Sehingga diharapkan kehadiran peserta didik dilokasi PKL dapat terpantau langsung, karena server aplikasi berada di lokal sekolah. Kami selaku Kepala Sekolah telah membuatkan algoritma dan sintak bagaimana aplikasi bekerja untuk mendukung layanan PKL yang efektif. Tugas berikutnya dilanjutkan oleh tim IT sekolah membuatkan aplikasi dan melakukan uji publik serta uji fungsi.

 

B. Tantangan

Aplikasi yang telah dibuat oleh tim IT sekolah, setelah mempelajari algoritma dan sintax yang disusun Kepala Sekolah, tidak serta merta dapat diimplementasikan secara langsung. Setidaknya butuh waktu sekitar 20 hari, aplikasi ini dapat diimplementasikan secara penuh. Sebelum aplikasi ini berhasil diimplementasikan, maka peserta PKL menggunakan jurnal manual berbasis kertas, untuk menrekam kehadiran dan aktivitas selama PKL di industri. Tentu hal ini menuntut kejujuran dari peserta PKL, mengingat tidak terdapat validator secara langsung (realtime).

Tantangan yang muncul saat pertama kali aplikasi ini di launching sehingga tidak langsung diimplementasikan adalah :

1.     Alur pengoperasian agar sesuai algoritma yang dibuat

2.     Ada beberapa guru pembimbing yang kesulitan dalam menggunakan aplikasi gadget

3.     Penetapan titik koordinat lokasi industri tempat PKL peserta didik

4.     Memahamkan pembimbing dari industri sebagai validator aktivitas PKL peserta didik

 

C. Aksi

Tahap awal pembuatan aplikasi oleh tim IT sekolah adalah mendiskusikan sintax yang diinginkan dengan kepala sekolah. Setelah dicapai pemahaman bersama, maka aplikasi dibuat dan diintegrasikan dengan aplikasi yang telah dibuat sebelumnya untuk pemantauan KBM guru mapel, yaitu aplikasi Nestar. Nestar sendiri akronim dari Negeri Satu Petarukan, merupakan aplikasi besutan tim IT SMK Negeri 1 Petarukan, yang peruntukannya sebagai alat monitoring Kepala Sekolah, terhadap pelaksanaan tugas utama Guru dan Tenaga Kependidikan dalam memberikan layanan optimal pada peserta didik. Sebelumnya aplikasi Nestar hanya digunakan oleh guru Mata Pelajaran untuk mengisi jurnal KBM setelah mereka selesai melaksanakan tugas mengajar, maupun tenaga kependidikan setelah mereka melaksanakan tugas layanan sekolah. Fungsi kepala sekolah dalam aplikasi tersebut adalah sebagai validator tugas-tugas yang telah diinput oleh guru dan tendik.

Aplikasi PKL yang telah dibuat untuk memudahkan pengelolaan PKL, selanjutnya diintegrasikan kedalam aplikasi Nestar, sehingga penggunaannya lebih compatible. Dalam aplikasi Nestar terdapat menu e-PKL, menu inilah yang digunakan oleh pembimbing industri, guru pembimbing dan peserta didik PKL untuk melakukan pengelolaan aktivitas kegiatan PKL.

Tahapan yang dilakukan untuk menciptakan menu e-PKL yang terintegrasi dengan aplikasi Nestar adalah :

1.     Kepala sekolah Menyusun algoritma dan sintax bagaimana aplikasi digunakan untuk mendukung efektivitas PKL

2.     Tim IT mendiskusikan dan membuat embrio aplikasi

3.     Guru pembimbing dan tim Pokja PKL sekolah melakukan inventarisasi data industri yang digunakan lokasi PKL sebanyak 215 tempat.

4.     Guru pembimbing dibantu tim IT sekolah melakukan input data peserta didik PKL berikut data industri tempat PKL

5.     Guru pembimbing dibantu tim IT sekolah menetapkan dan menginput titik koordinat industri tempat PKL dengan bantuan google map.

6.     Tim IT sekolah melakukan uji public dan sosialisasi kepada warga sekolah termasuk peserta didik, baik tutorial langsung, maupun melalui tutorial video tutorial yang diunggah di youtube agar dapat diputar berulang-ulang oleh warga sekolah.

7.     Saat penerjunan PKL, guru pembimbing melakukan sosialisasi penggunakan aplikasi Nestar pada menu e-PKL untuk pembimbing dari industri tempat peserta didik PKL.

8.     Setelah uji fungsi dan uji public, tim IT sekolah dengan arahan Kepala Sekolah melakukan penyempurnaan aplikasi, hingga sekarang telah digunakan dalam pengelolaan PKL di SMK Negeri 1 Petarukan

Evaluasi terhadap penggunaan aplikasi terus dilakukan, terutama ketika ada masukan dari peserta didik PKL dan pembimbing dari industri. Saat pelaksanaan monitoring langsung, setelah peserta didik melaksanakan PKL dalam durasi waktu kurang lebih 8 pekan efektif, guru pembimbing diminta masukan melalui instrument dan wawancara langsung kepada peserta didik PKL dan pembimbing indutri terkait aplikasi e-PKL yang digunakan. Sebagian besar masukan tersebut menyatakan bahwa keberadaan aplikasi ini membantu pengeolalan PKL sehingga PKL berjalan dengan efektif.

 

D. Refleksi

Aplikasi e-PKL yang terintegrasi dengan aplikasi Nestar, buatan SMK Negeri 1 Petarukan, secara nyata telah memberikan dampak positif terhadap pengelolaan PKL. Setidaknya guru pembimbing, pembimbing dari industri dan peserta didik PKL sangat terbantukan dengan adanya aplikasi ini. Kegiatan PKL di SMK Negeri 1 Petarukan berjalan efektif dan terkelola dengan baik.

Dampak langsung yang dirasakan dengan adanya praktik baik kepala SMK Negeri 1 Petarukan, dengan menciptakan aplikasi e-PKL yang terintegrasi adalah :

1.     Guru dapat melaporkan pelaksanaan kinerjanya sebagai pembimbing PKL meski lokasi PKL peserta didik yang dibimbing berada di luar kota, secara harian dan realtime

2.     Guru pembimbing dapat memantau secara langsung kehadiran dan kegiatan PKL peserta didik secara harian, serta dapat melakukan validasi karena dokumentasi yang dilampirkan oleh peserta didik dalam melaporkan aktivitas PKL di industri menggunakan bantuan timestamp camera.

3.     Pembimbing dari industri lebih ringan dalam melakukan pemantauan aktivitas peserta didik PKL, karena semua terpantau dalam 1 genggaman gadget.

4.     Peserta didik PKL lebih mudah Menyusun laporan PKL, karena bukti dukung kehadiran dan aktivitas PKL telah terekam secara otomatis dan tersimpan di server sekolah. Sehingga ketika masa PKL selesai, mereka tinggal menunduh dan melaporkan kegiatan PKL yang mereka ikuti secara komperhensif.

 

Keberhasilan Kepala SMK Negeri 1 Petarukan dalam menciptakan aplikasi e-PKL sehingga memudahkan dalam pengelolaan PKL, membuat Kepala SMK Negeri 1 Slawi Kab. Tegal dan kepala SMK Islam Al-Khoiriyah Petarukan, melakukan studi tiru dan meminta SMK Negeri 1 Petarukan berbagi praktik baik tersebut. Berikut dokumentasi berbagi praktik baik Kepala SMK negeri 1 Petarukan dengan SMK Negeri 1 Slawi dan SMK Islam Al-Khoiriyah Petarukan

 

III.    PENUTUP

A.  Simpulan

Kegiatan Praktik Kerja Lapangan (PKL) dalam implementasi kurikulum Merdeka, merupakan bagian dari Mata Pelajaran, atau kegiatan intrakurikuler. Durasi PKL yang cukup lama kurang lebih 16 pekan efektif, menuntut pihak sekolah untuk kreatif dan inovatif dalam pengelolaannya.

SMK Negeri 1 Petarukan melalui kepimpinan pembelajaran kepala sekolah, telah berhasil mengelola kegiatan PKL peserta didik. Pengelolaan tersebut diwujudkan dengan menciptakan aplikasi e-PKL yang terintegrasi dengan aplikasi Nestar. Keberadaan aplikasi ini memeberikan dampak dan manfaat baik untuk guru pembimbing dalam melaporankan kinerja tugas utamanya, peserta didik dalam membuat laporan PKL, mapun pembimbing industri dalam melaksanakan pembimbingan terhadap peserta PKL.

 

B.  Rekomendasi

Keberadaan aplikasi e-PKL telah dirasakan manfaatnya oleh civitas akademik SMK Negeri 1 Petarukan dalam pengelolaan PKL, maka keinginan kami untuk berbagi kepada SMK lain sangat besar. Hal ini agar manfaat yang ada dapat dirasakan juga oleh sekolah sekitar. Dengan semangat berbagi tersebut, diharapkan ketika ada kekurangan yang mungkin ditemukan oleh pengguna (user), dapat menjadi evaluasi kami untuk mengembangkan aplikasi tersebut.

Akhirnya dukungan dari berbagai pihak, sangat kami perlukan untuk menjadikan pengelolaan PKL sebagai mata Pelajaran lebih efektif melalui aplikasi yang kami ciptakan. Setiap masukan dari guru pembimbing, peserta didik dan pembimbing dari industri selalu kami tindaklanjuti sehingga aplikasi e-PKL menjadi kompetible seperti saat ini. Kami terus melakukan evaluasi baik melalui instrument maupun wawancara langsung kepada pengguna demi menyempurnakan aplikasi e-PKL.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

DAFTAR PUSTAKA

Hubeis, Musa. 2020. Manajemen Inovasi, Modul Pelatihan Peningkatan Kapabilitas dan Manajerial Kepala SMK Berbasis Industri. Bogor. Fakultas Ekonomi dan Manajemen IPB University

 

Pambudi, Rahman dan Burhanuddin. 2020. Karakter CEO, Modul Pelatihan Peningkatan Kapabilitas dan Manajerial Kepala SMK Berbasis Industri. Bogor. Fakultas Ekonomi dan Manajemen IPB University

 

Peraturan Meteri Pendidikan, Kebudayaan, Riset dan Teknologi RI Nomor 12. 2024. Kurikulum pada Pendidikan Anak usia Dini, jenjang Pendidikan Dasar dan jenjang Pendidikan Menengah. Jakarta. Menteri Pendidikan, Kebudayaan, Riset dan Teknologi

Rahmatullah, Noris, Dkk. 2024. Panduan Praktik Kerja Lapangan sebagai Mata Pelajaran dalam Implementasi Kurikulum Merdeka. Jakarta: Direktorat SMK, Dirjen Pendidikan Vokasi, Kemdikbudristek RI.

Sukmawati, Anggaini., Darjanto, Arief., dan Slamet, Alim S. 2020. Efective Communication, Modul Pelatihan Peningkatan Kapabilitas dan Manajerial Kepala SMK Berbasis Industri. Bogor. Fakultas Ekonomi dan Manajemen IPB University

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Lampiran Dokumentasi

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Tampilan antarmuka aplikasi e-PKL yang terintegrasi dg aplikasi Nestar

 

 

 


 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Tampilan menu E-PKL yang dibuka menggunakan perangkat andorid

Rabu, 23 Juni 2021

Project Work, sebagai solusi pengganti Praktik Kerja Lapangan (PKL) dimasa Pandemi

 

Tahun 2006 silam, kurikulum Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) pernah menerapkan pola tugas akhir bagi peserta didik kelas XII sebelum mereka menghadapi Ujian Nasioanal. Kegiatan  ini berlangsung dalam durasi 3-4 bulan, dimana peserta didik kelas XII wajib menyusun tugas akhir berupa project work dengan melibatkan Dunia usaha/dunia industry sebagai mitra dalam menyelesaikan proyek tersebut. Kegiatan tugas akhir bagi peserta didik SMK saat itu dimulai dengan pemilihan tema oleh peserta didik, dari beberapa tema proyek yang telah di tentukan oleh pihak sekolah sesuai dengan program keahlian masing-masing. Setelah tema ditentukan, peserta didik akan memilih dunia usaha/dunia industry mitra, tempat mereka menyelesaikan tema tersebut. Pihak sekolah memfasilitasi proses perijinan yang diperlukan peserta didik ke dunia usaha / dunia industry.

 

Proses selanjutnya dalam penyelesaian proyek tugas akhir, peserta didik akan menyusun proposal proyek yang dibimbing oleh guru kelompok mata pelajaran produktif selaku pembimbing materi, dan guru Bahasa Indonesia selaku pembimbing teknis penulisan. Tema proyek yang dipilih oleh peserta didik, merupakan salah satu kompetensi dasar yang diajarkan sesuai karakteristik program keahlian masing-masing. Misalnya pada program keahlian akuntansi, peserta didik memilih tema penyusunan laporan keuangan bagi usaha menengah kecil mikro (UMKM). Peserta didik akan menentukan salah satu UMKM disekitar tempat tinggalnya untuk dijadikan mitra dalam penyusunan proyek penyusunan laporan keuangan. Setelah proposal proyek disetujui oleh masing-masing pembimbing, maka peserta didik mulai mengerjakan proyek sesuai dengan yang di rencanakan dalam proposal. Proses pengambilan data dilakukan secara langsung tiap hari oleh peserta didik di dunia usaha/dunia industry mitra. Data yang terkumpul akan diolah menjadi prosedur penyusunan laporan keuangan yang sesuai dengan standar akuntansi. Dimulai dari transaksi harian, dibuatkan bukti transaksi, dicatat kedalam jurnal, posting dalam buku besar, dan sajikan dalam laporan keuangan sederhana.

 

Pada era pemberlakuan tugas akhir berupa project work bagi peserta didik SMK tersebut, khususnya untuk program keahlian akuntansi, peserta didik benar-benar mengalami proses pembelajaran praktik yang sesungguhnya. Karena data riil diperoleh dari dunia usaha/dunia industry, dan diolah sesuai dengan kaidah ilmu yang mereka pelajari, dengan dibimbing oleh guru mata pelajaran produktif. Bagi dunia usaha/dunia industry, pola project work tersebut memberikan keuntungan, mereka menjadi tahu proses kerja sesuai dengan kaidah keilmuan. Misalnya untuk bidang akuntansi, sebelum ada kegiatan tugas akhir dari peserta didik SMK, para pemilik usaha hanya menggunakan perkiraan, ketika ditanya mengenai laba/rugi usaha yang mereka jalankan. Dengan adanya pencatatan yang sesuai standar, mereka terbantukan untuk mengetahui laba/rugi dari usaha yang mereka jalankan dan kekayaan serta kewajiban yang mereka miliki dalam menjalankan usaha.

 

Masa pandemi seperti sekarang ini, dimana interaksi secara langsung dibatasi, pembelajaran dilakukan dengan model jarak jauh atau virtual, maka konsep project work yang pernah diterapkan di era tahun 2006 sepertinya cocok diterapkan kembali sebagai solusi pengganti kegiatan praktik kerja lapangan (PKL) bagi peserta didik SMK. Pelaksanaan project work hanya memerlukan interaksi dengan industry dunia kerja (Iduka) yang tidak terlalu intens, dibanding saat pelaksanaan PKL. Pola Praktik kerja lapangan sebelumnya menggunakan pola blok penuh, peserta didik berada di Iduka minimal 3 bulan. Hal ini jelas sulit dilaksanakan, mengingat pandemi covid-19 yang belum juga usai. Maka untuk memberikan pengalaman peserta didik dalam melakukan pekerjaan riil secara langsung, pola project work yang dulu pernah dilaksanakan menjadi salah satu solusi. Dengan project work, maka peserta didik bisa melaksanakan pembelajaran praktik lapangan secara langsung, tetapi intensitas berada di luar rumah tidak terlalu banyak. Peserta didik ke Iduka mitra, hanya untuk mengambil data atau melakukan konfirmasi data antara teori yang dipelajari dengan praktik di Iduka. Kemudian data tersebut diolah atau di praktikan untuk mengetahui apakah ada kesenjangan antara teori yang mereka pelajari dengan praktik yang berlangsung di Iduka. Proses pengolahan data tersebut bisa dilakukan di rumah. Hasilnya dikonsultasikan dengan guru pembimbing. Proses ujian dilaksanakan setelah peserta didik menyusun laporan lengkap. Laporan tersebut dipaparkan didepan penguji baik dari guru maupun penguji dari Iduka mitra.

 

Kegiatan Praktik kerja lapangan mengharuskan peserta didik berada di Iduka dalam kurun waktu tertentu sesuai dengan karakteristik kompetensi keahlian, biasanya minimal 3 bulan. Dalam durasi waktu tersebut, peserta didik tidak hanya menuntaskan kompetensi yang belum tuntas di ajarkan di sekolah, tetapi peserta didik juga belajar bagaimana karakteristik lingkungan kerja yang tentunya berbeda dengan lingkungan sekolah. Awal mula program PKL diluncurkan untuk peserta didik SMK adalah dimaksudkan untuk menuntaskan kompetensi-kompetensi tertentu yang tidak bisa diajarkan di sekolah, karena keterbatasan alat di sekolah. Tetapi pada beberapa kompetensi keahlian, seluruh kompetensi yang diajarkan bisa dilakukan di sekolah, maka kegiatan PKL dimaksudkan hanya untuk mengenalkan budaya kerja di industry.  

 

Pandemi covid-19 telah mengubah gaya hidup manusia dalam berinteraksi dan beraktivitas. Sejak diumumnya wabah Covid-19 sebagai pandemi global, maka kebijakan yang diterapkan bagi dunia pendidikan adalah belajar dari rumah atau pembelajaran jarak jauh. Hal ini dimaksudkan untuk memutus mata rantai penularan covid-19. Kebijakan tersebut juga berdampak pada pelaksanaan praktik kerja lapangan (PKL) atau Praktik kerja industry (Prakerin) bagi peserta didik SMK. Mengenalkan budaya kerja di indutri sangat penting bagi peserta didik SMK, tetapi intensitas interaksi langsung juga harus dibatasi. Solusi yang dapat diambil untuk mengatasi hal tersebut adalah dengan penerapan project work.

 

Project work yang diterapkan di SMK Negeri 1 Songgom, sebagai solusi pengganti Praktik kerja lapangan (PKL) diperuntukan bagi peserta didik kelas XI yang pelaksanaannya pada semester genap tahun pelajaran 2020/2021. Kegiatan project work ini diawali dengan penentuan tema proyek atau pekerjaan yang hendak dilakukan oleh peserta didik sesuai dengan kompetensi keahlian masing-masing. Pemilihan tema disesuaikan dengan kompetensi dasar pada mata pelajaran kelompok C3. Tema yang terpilih selanjutnya dibuat proposal proyek oleh masing-masing peserta didik. Peserta didik diberi kesempatan untuk menentukan Iduka yang dijadikan mitra untuk menyelesaikan proyek tersebut. Lokasi Iduka yang jadikan mitra harus berada di area atau lokasi terjangkau dari tempat tinggal peserta didik, hal ini dimaksudkan untuk mengurangi resiko, karena jika berada pada jarak aman, maka bisa dijangkau tanpa menggunakan kendaraan umum. Sekolah menyiapkan surat permohonan pada Iduka sebagai mitra penyelesaian proyek peserta didik. Proposal proyek yang di tulis oleh masing-masing peserta didik, kemudian dikonsultasikan dengan guru pembimbing, hal ini dimaksdukan agar proyek yang hendak diselesaikan oleh peserta didik lebih spesifik, terukur dan terarah pada pencapaian kompetensi keahlian tertentu. Konsultasi dilakukan secara virtual menggunakan platform Microsoft teams. Setelah proposal proyek disetujui, peserta didik bisa memulai mengerjakan proyek dengan melibatkan Iduka mitra sebagai tempat untuk menngumpulkan dan mengolah data terkait dengan proyek tersebut. Selama penyelesaian proyek, peserta didik mengkonsultasikan pekerjaannya dengan guru pembimbing dan Iduka mitra secara virtual. Portofolio penyelesaian proyek akan terdokumentasi melalui buku catatan kelas di kelas teams peserta didik. Durasi penyelesaian proyek selama 3 bulan sampai dihasilkan kerja proyek yang diharapkan. Hasil tersebut selanjutnya di tulis dalam laporan oleh masing-masing peserta didik. Tahap akhir dari kegiatan project work ini adalah ujian presentasi yang dilakukan oleh peserta didik mengenai hasil proyek yang telah selesai dikerjakan. Penguji berasal dari guru produktif yang bukan sebagai guru pembimbing penulisan proyek tersebut. Hal ini dimaksudkan agar hasil pekerjaan terkonfirmasi dari berbagai sudut pandang yang berbeda.

 

Penunjang kegiatan project work, interaksi antara peserta didik dan guru pembimbing dilakukan melalui kelas virtual memanfaatkan Microsoft teams. Portofolio penyelesaian proyek terhimpun dalam kelas virtual, sehingga memungkinkan perbaikan atas pekerjaan proyek bisa dilakukan secara bersama-sama antara guru pembimbing dan peserta didik. Hasil yang diharapkan dari kegiatan project work ini tentunya memberikan pengalaman tersendiri pada peserta didik dalam mengimplementasikan teori dengan pekerjaan riil yang terjadi di industry dan dunia kerja. Akhirnya diharapkan meskipun dalam masa pandemi, kegiatan PKL tetap bisa dilaksanakan dengan pola yang berbeda, untuk menjaga kualitas kompetensi peserta didik SMK.

Pembelajaran Praktik dimasa Pandemi

Pandemi Covid-19 telah berlangsung hamper 1 tahun. Selama masa itu, telah banyak merubah pola perilaku kehidupan manusia di berbagai bidang. Pandemi telah memaksa dunia pendidikan menerapkan pola pembelajaran jarak jauh. Pembelajaran konvesional yang selama ini diterapkan di dunia pendidikan, dimana interaksi antara guru dan peserta didik terjadi secara langsung, diubah menjadi interaksi virtual. Perubahan interaksi virtual itulah yang setidaknya menimbulkan kekawatiran terhadap terdistorsinya penguatan pendidikan karakter dan pembelajaran praktikum, khususnya bagi Sekolah Menengah Kejuruan.

 

Penggunaan platform Pembelajaran jarak jauh (PJJ), digadang-gadang mampu untuk mengurangi dampak terdistorsinya penguatan pendidikan karakter. Misalnya platform PJJ yang menawarkan tatap muka virtual, seperti Zoom, Google Meet, Cisco Webex, maupun Microsoft Teams, dimungkinkan dapat mengatasi kekawatiran terhadap penguatan pendidikan karakter yang terabaikan selama PJJ. Dalam tatap muka virtual interaksi antara guru dan peserta didik bisa berjalan dengan saling melihat layar virtual masing-masing. Guru bisa melihat apakah peserta didik menggunakan seragam sekolah dengan benar selama pembelajaran atau tidak. Guru juga dapat melihat performa penampilan peserta didik, apakah potongan rambut bagi peserta didik laki-laki, sesuai dengan tata tertib sekolah atau tidak. Tetapi penggunaan platform tatap muka virtual tersebut menimbulkan masalah terkait dengan kuota. Biasanya durasi guru dalam menggunakan platform tatap muka virtual berkisar antara 1 sampai 2 jam, selebihnya interaksi pembelajaran guru dan peserta didik dilakukan dengan menggunakan pendekatan asyncrounous. Maka untuk efektivitas dan kualitas interaksi antara guru dan peserta didik dalam tatap muka virtual, sebaiknya dilakukan untuk melakukan konfirmasi materi pembelajaran dan fokus pada pemberian motivasi serta penguatan pendidikan karakter. Adapun penguasaan materi pembelajaran selanjutnya dapat dilakukan melalui pembelajaran asyncrounous.

 

Pembelajaran praktik secara konvensional biasa dilakukan di laboratorium maupun bengkel-bengkel praktik yang ada di sekolah. Bagi sekolah menengah kejuruan (SMK), pembelajaran praktik merupakan suatu keharusan. Bahkan struktur kurikulum SMK untuk pembelajaran kelompok C (kompetensi keahlian) yang menuntut dilakukan dengan praktikum langsung, porsi jam pembelajarannya sangat besar. Per pekan sesuai dengan struktur kurikulum kelompok C3 SMK untuk kelas XI ada 31 jam pelajaran dan kelas XII ada 33 jam pelajaran. Dengan jumlah jam pembelajaran sebanyak itu perpekan, artinya lulusan SMK dituntut kompeten dalam penguasaan materi sesuai dengan kompetensi keahlian masing-masing.

 

Selama berlangsung pembelajaran jarak jauh, praktis peserta didik tidak dapat lagi melihat ruangan bengkel atau laboratorium yang rutin mereka kunjungi selama pembelajaran praktik. Alat-alat dan bahan praktik juga tidak lagi tersetuh oleh jari-jari tangan mereka. Selama ini mereka hanya melihat praktik membongkar mesin misalnya, dari tanyangan youtube yang di share oleh para guru kejuruan. Mereka diajak untuk berimajinasi praktik. Jelas hal ini sangat mempengaruhi kompetensi psikomotor peserta didik SMK. Maka harus ada solusi bagaimana peserta didik SMK bisa melakukan praktik, tetapi tetap mengamankan kebijakan pemerintah, untuk melaksanakan kegiatan belajar dari rumah.

 

Solusi pembelajaran praktik dimasa pandemi yang kami lakukan di SMK Negeri 1 Songgom, mulai semester genap tahun pelajaran 2020/2021, dengan memberikan 2 (dua) alternatif pilihan yang disesuaikan dengan kondisi lingkungan peserta didik. Alternatif tersebut adalah 1. Pembelajaran parktik di Industri / dunia kerja (Iduka) yang berada disekitar tempat tinggal peserta didik atau di zona aman terpapar covid-19 dan 2. Pembelajaran praktik dirumah, dengan alat yang dipinjam dari sekolah dan bahan yang diambil di sekolah. Adapun sintaks dari kedua alternative pembelajaran praktik tersebut adalah sebagai berikut :

Sintaks pembelajaran praktik alternative 1 :

1.          Pemetaan lokasi Iduka yang berada dalam zona aman atau terdekat dengan tempat tinggal peserta didik

2.          Pemetaan KD-KD esensial yang memerlukan Praktik langsung

3.          Melakukan pendekatan dengan iduka sebagai tempat praktik peserta didik diwujudkan dengan MoU

4.          Pemetaan kebutuhan bahan praktik yang tidak bisa disediakan oleh Iduka

5.          Siswa tetap melakukan pembelajaran daring, saat materi praktik maka siswa melakukan praktik di Iduka, dan mengirimkan portofolio praktik melalui aplikasi buku catatan kelas di Microsoft teams.

6.          Penilaian portofolio praktik siswa sekaligus dijadikan sebagai penilaian PKL siswa

7.          Iduka bisa menerbitkan sertifikat praktik untuk siswa

Sintaks pembelajaran praktik alternative 2 :

1.          Pemetaan KD-KD esensial yang memerlukan Praktik langsung

2.          Siswa ke sekolah hanya untuk mengambil alat dan bahan praktik di lab/bengkel sekolah

3.          Siswa tetap melakukan pembelajaran daring, saat materi praktik maka siswa melakukan praktik di Rumah masing-masing, dan mengirimkan portofolio praktik melalui aplikasi buku catatan kelas di Microsoft teams.

4.          Siswa mendiskusikan hasil praktik dengan guru melalui daring, setelah guru mempelajari portofolio praktik yang dikirimkan oleh siswa melalui kelas Teams

5.          Siswa mengirimkan produk hasil praktik ke sekolah untuk di nilai oleh guru mata pelajaran

 

Pembelajaran praktik pada alternative 1, juga dapat diterapkan ketika pandemi telah selesai, dan sekolah melaksanakan pembelajaran normal seperti sebelum ada pandemi. Proses pembelajaran praktik pada alternative 1 merupakan bentuk transformasi pembelajaran yang terdesentralisasi. Sebelumnya peserta didik melakukan parktik ditempat yang sama tiap hari, yaitu di laboratorium dan bengkel masing-masing sesuai kompetensi keahlian. Transformasi praktik yang kami tawarkan, adalah memindahkan tempat praktik yang selama ini di bengkel atau laboratorium sekolah, ke industry dan dunia kerja. Sehingga diharapkan peserta didik memperoleh pengalaman belajar riil dan natural secara langsung, yang diharapkan ketika mereka lulus dan bekerja, mudah untuk beradaptasi dengan lingkungan pekerjaan.

 

Selama masa pandemi, dimana kebijakan pembelajaran jarak jauh diberlakukan di setiap jenjang satuan pendidikan, harus disikapi oleh sekolah dengan bijak, terukur, terarah dan terintegrasi. Tuntutan Standar Kompetensi Lulusan (SKL) peserta didik, harus di respon dengan inovasi dan kreativitas pengelolaan pendidikan. Ikhtiar pembelajaran praktik di masa pandemi dimaksudkan agar SKL peserta didik di SMK Negeri 1 Songgom terutama pada indikator psikomotor, tidak terdistorsi terlalu dalam. Bekal kompetensi ketrampilan yang menjadi ciri khas lulusan SMK tetap ada, meskipun pembelajaran dilaksanakan secara virtual.